Bismillah... Sore, 20 Juli 2022 Gua ngetik ini karena liat post tentang JILBAB. Artikelnya tuh, agak kurang on point aja bahasanya dan jadi ...

Nasihat apa yang kubutuhkan? Apakah semua harus masuk? . Aku biarkan untuk didepan 'pintu' dulu.

Bismillah...

Sore, 20 Juli 2022

Gua ngetik ini karena liat post tentang JILBAB.


Artikelnya tuh, agak kurang on point aja bahasanya dan jadi melebar kemana-mana, 

Sampe ada yg nyimpulin mau ubah ubah kewajiban syari'at.

Pertama-tama even gua belum jadi sepenuhnya muslimah yang sempurna.

Satu hal, gua berusaha sami'na dan ga ubah-ubah, 'ngeles' syari'atNya. Wa ATHO'NA nya pelan-pelan, apapun yang gua bisa, gua harus lakuin aamiin semoga bisa istiqomah. 

Oke, itu sikap gua scr umum terhadap artikel itu. Nah terus apa sih isi artikelnya?

Inti point artikelnya :

1. Jilbab memang kewajiban dariNya, ketaatan kepadaNya. Namun, menYIMPULKAN penggunanya SHOLIHAH, MENILAI SHOLIHAH secara hakikat, bukan kewenangan individu hambaNya ataupun umat Rasulullah.

2. Maka, apabila ada kesalahan individu pemakai jilbab, yang disalahkan adalah perilaku individunya. terlepas apapun atributnya.

3. Jilbab dipandang scr fungsional yg artinya pakaian kesopanan oleh keadaan sosial.

4. " Yuk, berhenti menjadikan jilbab sebagai standarisasi tingkat kesholihan perempuan "

5. " Karena, yang paling shalihah dihadapan Allah subhana wa ta'ala orang yang paling bertakwa , bukan yang paling bagus atau panjang pakaiannya

6. dari point no 5 laki-laki dan perempuan sama sama diminta untuk selalu berbuat baik di muka bumi ini. 


Oke, menurut IMSO dari pelajaran-pelajaran ngaji gua yang masih sangat kurang dan perlu dikembangin, terutama gua dapet dari salaf. 

Point 1-2 setuju.

Point 3) Hakikatnya jilbab apalagi ditaati dengan kaffah, nilainya sudah sangat mulia lebih dari fungsional, karena ketaatan hamba kepadaNya. Orang banyak kontra wajar sih, kawatir yang awam mikirnya jilbab ya udah itu maknanya. Harusnya gunakan dalam konteks beragama saja, konteks dunia sosial itu perlu juga, tapi yang bisa bahwa betul dan bisa digunakan keadaan sosial itu kebijakan ulama. Kita pakai tafsir 4 madzhab yg shahih, in syaa allah. Hati-hati kita manusia akhir zaman tersetar setir keadaan sosial. Kita tetap kok berhak punya opini untuk diri kita sendiri, dengan tetap mengutamakan syari'atNya.  

Point 4). Sejujurnya gini, kalau mau bahas point 4 aja, tuh bisa dalem banget. HMM i try to ringkas, 'menilai' itu sometimes diperluin tapi tergantung individu/kelompok bersangkutan juga yah. kapaan? ya ga tiap waktu dongg, apalagi sampe bahan ghibaah, ewwww, kalian yg sangat beriman yg taat abiss heey, awas ghibah, terus menilai pun bisa tanpa ngejudge kasar. Oke, kapan? A. saat memilih pasangan hidup B. Saat memilih influencer agama, Ambassador kemuslimahan, ataupun pengurus organisasi islam. Diluar itu, ya menilai-nilai judge jelek orang ya tentu aja diliat lagi tujuan lo apa, evaluasi lagi, kalau malah lo berubah jadi orang yang meng'ekslusifkan' diri, nasihatin dengan nada, adab ga enak, jadi dijauhin ya gimana?. pun kalau dijauhin karena kita sudah berusaha beradab yang baik, ya itu merekanya yg menjauhi kamu shg kamu  yg jadi terkesan diekslusifkan, sabar yah kamu yang hijrah.

Point 5) Wadidaww kalau udah berfatwa takwa tuhh sereemm sebetulnya, bukan kapasitasnya, even ustadz aja kaya ustadz yg belum jam terbang tinggi apalagi lulusan pesantren/kampus saudi belum tepat untuk bahas hal tsb. Nah,, ini point telak kenapa orang-orang banyak nangkep, artikel ini kaya mau ubahubah kewajiban . Kenapa? karena point 5 bisa diterjemahin kaya gini, " Oh berjilbab belum tentu yg paling bertakwa yah, berarti aku ga hijaban, tetep bisa paling bertakwa dong yah " . Karena gini yg paling bertakwa ya yg taat dengan syari'atNya gitu. ada dalilnya kok. mungkin kalau tafsir semoga bisa kususul tulis juga. Memang, bukan satu-satunya jilbab sebagai tolak ukur, tapi itu bukti konkrit salah satunya. jangan lupain apalagi sampe mau ubah-ubah.

Kita emang kalau berdakwah bukan bukan, duh apa ya, ingetin saudara saudara seiman kita, gunakan adab kita yg utama jangan lupa, jangan pakai emosi, apalagi emosi dengki iri, jangan memper'malukan' didepan khalayak. Nah, cuma kalau pakai adab when it comes to berpelukan ama mereka, gua rasa kata-kata point nomer 5 ga tepat diucapkan. Makna takwa itu udah diatur banget bro soalnya, udah menuju aqidah tauhid lah, istilahnya.  Ada cara lain, apa yah misal, hmm... bingung juga gua, oh at least lu tetep baik temenan sama mereka mereka yg ga berkerudung, tetep sahabatan selama mereka bisa hormatin boundaries lu juga. Lu doain, jangan ajak mereka ke keburukan. 

Kita sebagai orang yg bukan lulusan khususon agama, hati hati dalam bikin artikel gini. kita perlu rangkul mereka, tapi inget jangan malah ubah-ubah syari'at. 


Sebetulnya, lebih bagus kalau, di pointkan, "hati hati berkomentar di sosmed, dunia nyata, dalih mengingatkan soal hijab, apalagi kalau dia buka kerudung, jangan  hujat, doakanlah, jangan tinggalin, justru malah harus ditemenin sampe dia sendiri yg ga mau ditemenin, dan jangan influence ga berhijab its good"


Gua bikin artikel gini, untuk memberi tanda jelas, gua 'berpihak' ke siapa, Berpihak ke ajakan ke kebaikan. Even you in keburukan aku yg ga ngajak, tapi aku ga menghujat, mengucilkan, menjahati.

Sekian.

Wassalamu'alaykum wr wb


0 komentar: